Selamat Tinggal Doraemon, Saat Kita Menyadari Bahwa Waktu Pernah Begitu Baik

Ada masa ketika Minggu pagi terasa ringan tanpa alasan yang jelas. Tidak ada agenda besar. Tidak ada kewajiban mendesak. Hanya satu kebiasaan kecil yang selalu sama. Menyalakan televisi dan menunggu Doraemon muncul di layar. Sejak awal 2026, kebiasaan itu berhenti. Dan di situlah banyak orang Indonesia baru benar-benar merasa kehilangan.

Doraemon tidak pernah datang dengan sensasi. Ia tidak menawarkan cerita yang mengejutkan. Ia hadir dengan pola yang berulang, nyaris bisa ditebak. Namun justru di sanalah kenyamanannya. Selama lebih dari 35 tahun, Doraemon menjadi penanda waktu. Jika Doraemon sudah selesai, hari Minggu benar-benar dimulai.

Banyak orang menyimpan kenangan yang hampir sama. Bangun lebih pagi dari hari biasa. Mata masih berat, badan belum sepenuhnya siap. Televisi dinyalakan lebih dulu sebelum mandi. Duduk di lantai ruang tamu, kadang sambil memeluk bantal. Dari dapur terdengar suara orang tua menyiapkan sarapan. Lalu lagu pembuka Doraemon terdengar. Pada momen itu, tidak ada yang terasa mendesak. Dunia seolah memberi waktu untuk bernapas.

Doraemon dikenal luas di Indonesia sejak awal 1990-an. Ia tumbuh bersama generasi yang kini telah dewasa. Anak-anak yang dulu tertawa melihat Nobita kini mungkin menjalani hidup yang jauh lebih rumit. Namun Doraemon tetap sama. Ceritanya tidak berubah. Karakternya tidak berkembang drastis. Dan justru di situlah ia terasa seperti rumah.

Nobita selalu membuat kesalahan. Doraemon selalu mencoba membantu. Alat-alat ajaib selalu tampak menjanjikan. Namun hampir selalu, kemudahan itu berujung masalah baru. Pola itu berulang tanpa lelah. Tanpa disadari, Doraemon mengajarkan sesuatu yang jujur tentang hidup. Bahwa tidak ada jalan pintas. Bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi. Bahwa bantuan tidak pernah menggantikan usaha.

Pesan itu mungkin terasa ringan saat masih kecil. Saat itu, Doraemon hanyalah kartun. Namun ketika dewasa, ketika hidup mulai terasa berat dan tidak ada kantong ajaib yang bisa diandalkan, cerita Doraemon terasa jauh lebih nyata. Kita menjadi Nobita. Kita berharap segalanya lebih mudah. Namun hidup selalu meminta proses.

Ketika Doraemon berhenti tayang di televisi, rasa kehilangan yang muncul bukan sekadar karena satu kartun hilang. Yang benar-benar hilang adalah satu kebiasaan yang dulu terasa abadi. Sebuah rutinitas kecil yang tidak pernah kita pikirkan akan berakhir.

Reaksi Publik: Saat Rindu Datang Bersama Kenangan

Hilangnya Doraemon dari televisi nasional segera memicu gelombang nostalgia di media sosial. Sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, banyak orang menuliskan kenangan mereka. Bukan dengan kata-kata besar, melainkan cerita kecil yang terasa sangat pribadi.

Ada yang menulis tentang menonton Doraemon bersama ayah atau ibu yang kini sudah tidak ada. Ada yang mengenang rumah lama yang sudah lama ditinggalkan. Ada pula yang menulis bahwa Doraemon menemani mereka dari masa sekolah hingga kini bekerja sendirian di kota lain. Doraemon menjadi pintu menuju kenangan yang lebih luas dari dirinya sendiri.

Banyak warganet mengaku baru benar-benar merasa kehilangan setelah Doraemon tidak lagi tayang. Selama ini, Doraemon dianggap akan selalu datang. Ketika kebiasaan itu berhenti, barulah terasa bahwa waktu telah berjalan jauh tanpa menunggu siapa pun.

Reaksi yang muncul hampir bersamaan ini menunjukkan satu hal penting. Doraemon bukan sekadar tontonan. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif. Ia mengikat kenangan banyak orang dalam satu pengalaman yang sama.

Ketika Layar Berganti, Perasaan Tak Lagi Sama

Doraemon memang belum sepenuhnya pergi. Ia masih bisa ditonton melalui layanan streaming. Anak-anak hari ini tetap bisa mengenalnya. Namun pengalaman itu berbeda.

Dulu, Doraemon ditonton bersama. Pada waktu yang sama. Di ruang yang sama. Hari ini, Doraemon ditonton sendiri. Di layar kecil. Di sela kesibukan. Tidak ada lagi rasa menunggu. Tidak ada lagi kebersamaan yang sederhana.

Televisi tidak lagi menjadi pusat rumah. Ponsel dan tablet menggantikannya. Praktis dan cepat, tetapi sunyi. Perubahan ini tidak salah, tetapi membawa jarak yang sulit dihindari.

Bagi generasi lama, kehilangan Doraemon di televisi bukan soal akses. Mereka masih bisa menontonnya kapan saja. Namun yang tidak bisa dikembalikan adalah suasana. Minggu pagi yang pelan. Rumah yang ramai. Perasaan bahwa hidup, untuk sesaat, terasa aman.

Kenangan yang Akan Selalu Mengetuk Diam-Diam

Berakhirnya Doraemon di televisi nasional menutup satu bab kecil dalam hidup banyak orang Indonesia. Namun kenangan yang ditinggalkannya tidak ikut pergi. Ia akan selalu datang tanpa diminta. Saat lagu pembukanya terdengar. Saat melihat komik lama. Saat Minggu pagi terasa terlalu sunyi.

Doraemon mungkin tidak lagi hadir di layar kaca. Tetapi ia tetap tinggal di tempat yang tidak bisa disentuh waktu. Di masa kecil yang pernah kita miliki. Di ingatan yang tidak pernah benar-benar pudar. Dan di hati mereka yang suatu hari menyadari, bahwa kebahagiaan dulu sering datang dalam bentuk yang sangat sederhana, lalu pergi tanpa pernah memberi tanda.